Adat Istiadat Budaya Siraman yang masih lestari di Tatar Sunda (Kampung Tagog Ds. Buniaish Kec. Kadipaten Kab. Tasikmalaya)

Adat Istiadat Siraman yang masih lestari di Tatar Sunda (Kampung Tagog Ds. Buniaish Kec. Kadipaten Kab. Tasikmalay)

buniasih.sideka.id-TAGOG. Menindaklanjuti Surat Edaran Badan Prakarsa Pemberdayaan Desa dan Kawasan (BP2DK) dengan Direktorat Jendral Kebudayaan-Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan mengenai  Pelaksanaan Undang-undang Nomor 5 Tahun 2017 tentang Pemajuan Kebudayaan, Desa Buniasih ikut peran serta dalam mempublikasikan budaya adat istiadat yang masih lestari di desanya. Senin, (05/11/2012).

Budaya Siraman sebelum Melaksanakan Pernikahan

Siraman memiliki arti “memandikan”. Memandikan calon pengantin sebelum hari pernikahannya dipercaya sebagai simbol membersihkan diri agar bersih dan suci secara lahir dan batin sebelum menjalani hidup rumah tangga. Orang yang “memandikan” pun hanya orang yang dituakan, dikhususkan orang yang telah mempunyai cucu atau setidaknya orang tua yang sudah memiliki putra dan mempunyai budi pekerti yang dapat dijadikan teladan karena akan diminta berkahnya. Prosesi siraman (memandikan) calon pengantin biasanya dilakukan di hari sebelum pernikahan dilakukan.

Wawancara Asal-usul Budaya Siraman dengan Bapak Ali Mustopa P3N KUA Kec. Kadipaten

Beradarakan hasil wawancara singkat bersama Bapak Ali Mustopa Petugas P3N (Pembantu Pegawai Pencatat Nikah). Beliau memaparkan “Kalo Budaya siraman itu sudah ada sejak dulu, budaya siraman ini hanya adat istiadat kebudayaan orang jawa (sunda) saja, tidak ada dalam al quran nya, tidak wajib bahkan tidak sunah juga. ujarnya. Budaya siraman ini, masih dilestarikan oleh masyarakat tatar sunda. Namun tidak semua  orang melakukan budaya siraman sebelum menikah, hal ini dikarenakan untuk melaksanakan budaya tersebut memerlukan biaya yang lumayan tidak sedikit.

Fungsi :

  • Dipercaya sebagai simbol membersihkan diri agar bersih dan suci secara lahir dan batin sebelum menjalani hidup rumah tangga.

Tujuan :

  • Melestarikan Budaya Adat istiadat turun-temurun agar tetap terjaga kelestariannya.

Kondisi objek budaya siraman saat ini masih ada (tejaga, terawat) dan masih dilakukan di kalangan masyarakat khususnya Wilayah  Desa Buniasih namun tidak semua masyarakat dapat melakukan budaya siraman ini, karena banyak masyarakat yang beranggapan kalo budaya siraman ini hanyalah pamer kemegahan dalam proses pernikahan.  Permasalahan yang dihadapi terkendala dengan biaya yang dikeluarkan untuk menggelar budaya siraman ini yang lumayan mahal dan kalah bersaing dengan budaya modern yang lebih simple.

Masyarakat bisa lebih memaknai tradisi budaya siraman agar budaya siraman ini tetap terjaga, terawat dan bisa dilestarikan di masyarakat sehingga keberadaan budaya siraman ini tidak punah dapat diwariskan turun-temurun ke anak cucu kelak.

#uupemajuankebudayaan #objekpemajuankebudayaan

 

 

 

 

Facebook Comments

Jadi yang Pertama Berkomentar

Tinggalkan Komentar